Sabtu, 03 November 2007

Rebusan Kubis Merah Jadi Pewarna Kain

IPTEK Siswa SMP Penemu Teknologi Tingkat Nasional

Rebusan Kubis Merah Jadi Pewarna Kain


SM/Fani Ayudea BERSAMA KELUARGA : Amalia Dwi Ariska (tengah), juara 1 Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna Tingkat Nasional LIPI untuk tingkat SMTP, bersama keluarganya.(30)


Dua siswa SMP di Semarang dinobatkan sebagai penemu berskala nasional, bersama delapan orang lainnya. Tepatnya penemu di bidang teknologi tepat guna. Yaitu teknologi yang cocok dengan kebutuhan masyarakat sehingga bisa dimanfaatkan. Berikut laporan Fani Ayudea mengenai kisah dua penemu tersebut. SORE itu Riska (13) mengenakan kaus biru lengan pendek dipadu dengan celana jins biru. Wajahnya tampak segar.

Meski ia baru saja menempuh perjalanan panjang Subang-Semarang, wajah siswi kelas 8h SMP Negeri 5 Semarang tampak ceria. Ia masih bisa bercanda dengan adik semata wayangnya, Andika Wahyu Aysar (10).

Bila dilihat sekilas, tak nampak sesuatu yang istimewa dari penampilan gadis bernama lengkap Amalia Dwi Ariska tersebut. Penampilan gadis kelahiran Semarang, 26 Januari 1994 itu, laiknya remaja-remaja seusianya. Rambut lurus sebahu, berponi, serta mengenakan jepit rambut warna-warni.

Ia tak menggunakan kaca mata minus seperti umumnya para penemu teknologi baru. Polah tingkahnya juga sama seperti remaja putri lainnya. Ia suka membaca novel teenlit dan main game komputer hingga berjam-jam.

Siapa pun tak ada yang menyangka gadis itu seorang penemu. Putri pasangan Drs Suyono dan Letkol Sri Widyastuti SH itu menemukan teknik mewarna kain dengan menggunakan rebusan kubis merah (red cabbage) yang dicampur cairan tawas.

Kubis Merah

Ide penemuan itu berawal dari pelajaran kimia di kelas 7 semester 1. Ketika itu gurunya menyebutkan bahwa kubis merah bisa menjadi pewarna kain. "Tapi waktu itu tidak pernah ada kelanjutan dari pelajaran teori itu. Guru tak mengajari kami dalam praktik. Makanya saya penasaran dan ingin mencobanya sendiri," kata gadis berkulit hitam manis ini.

Kebetulan dia yang bergabung dengan ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya, ditawari untuk mengikuti Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna Tingkat Nasional untuk Siswa SMTP (Sekolah Menengah Tingkat Pertama) tahun 2007 yang diselenggarakan dalam rangka peringatan 40 tahun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Saya tanya ke bapak, ikut atau nggak. Kata bapak ikut saja. Akhirnya saya ikut," ujar gadis yang bercita-cita jadi dokter ini. Ia pun teringat dengan si kubis merah yang bisa jadi pewarna pakaian. Dibantu oleh ayah dan kakaknya, Riska melakukan beberapa kali percobaan di rumah. "Bapak yang beli bahan-bahannya di pasar," imbuhnya.

Ia mengerjakan sendiri semua laporan karya ilmiahnya yang berjudul Kubis Merah sebagai Alternatif Indikator Alam Asam dan Basa. "Dari ngetik sampai nge-print semua saya sendiri yang mengerjakan. Saya bahkan begadang sampai pukul satu dini hari," tambah anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Menurutnya, pewarna pakaian dari kubis merah ini selain hemat biaya juga gampang mengerjakannya. Riska menjelaskan, pertama-tama kubis merah diiris-iris kemudian direbus dengan air. Lalu ekstraknya disaring. Hasil saringan itulah yang bisa digunakan untuk mewarnai kain.

Untuk mengawetkan warna ketika cairan kubis merah akan dipakai mewarnai kain, tuangkan cairan tawas. "Cairan rebusan kubis merah itu akan berwarna merah muda ketika dicampur dengan larutan asam. Kalau dicampurkan larutan basa, warnanya berubah jadi biru," ujarnya.

Larutan asamnya, lanjut dia, bisa dari larutan air jeruk atau cuka. "Dari larutan buah nanas juga bisa. Itu kan termasuk asam juga," ujar gadis yang mengikuti ekstrakurikuler KIR, seni tari, dan PMR di sekolahnya.


Sumber :http://www.suaramerdeka.com/harian/0708/27/nas07.htm tanggal Senin, 27 Agustus 2007

Tidak ada komentar: